03:36 am - Thursday 23 February 2012

Sesungguhnya Tuhan Tidak Tidur

By wiku - Wed Feb 01, 2:27 am

 

Dua orang lelaki berjalan tanpa suara di keheningan malam.
Yang seorang berjalan agak di depan, bertubuh tinggi besar lagi tegap.
Yang seorang lagi berjalan agak di belakang seolah-olah selalu berusaha mengejar langkah lelaki di depannya. Tubuhnya tinggi sedang.

Keduanya menuju pinggiran kota dalam suasana malam yang senyap tersebut. Di sebuah tempat, keduanya berhenti sebentar lalu menatap sebuah gubuk reot dengan cahaya kecil seperti dari nyala tungku kecil.
“Kita kesana!” kata pria bertubuh tinggi tegap tersebut. Pria yang satunya mengiyakan tanpa bersuara.

Di dekat gubuk reot tersebut keduanya lalu berjalan sedikit mengendap-endap seolah tak ingin diketahui kehadirannya oleh penghuni rumah. Pencurikah mereka berdua?
Wallahua’alam.
Dengan sedikit gerakan, keduanya berusaha mencari dengar apa yang sedang dilakukan penghuni rumah tersebut. Lamat-lamat terdengar suara seperti orang yang sedang memasak sambil mengaduk isi panci yang berada diatas tungku. Sementara di antara bunyi adukan panci tersebut, terdengar suara isak tangis 2 atau 3 anak-anak yang menggumamkan kata-kata: “lapar nek.., lapar..”
Duh Gusti…..

Sejam, hingga mendekati dua jam, tak juga suara adukan panci tersebut berhenti. Akhirnya karena penasaran, lelaki berbadan tegap berkehendak untuk menemui penghuni rumah.
“assalamu’alaikum..”, sapanya dengan suara jelas.
“walaikum salam…” jawab suara dari dalam.
Lelaki tegap itu kemudian masuk ke dalam gubuk reot tersebut diikuti lelaki temannya tadi.
“Maafkan kami, wahai wanita tua, kebetulan kami sedang lewat sini dan memperhatikan rumah Anda masih ada nyala api tungku masak. Gerangan apakah yang kau masak sedari tadi belum matang juga hingga saat ini? Bolehkah saya mengetahuinya, dan mengapakah anak-anak ini menangis hingga suaranya parau?”
“Tuan yang terhormat, silakan jika itu yang ingin Anda lakukan” jawab wanita tua tersebut.
Bergegas lelaki tegap tersebut membuka tutup panci dan melongok mencoba melihat isinya. “Masya Allah.., Ibu memasak batu? Sungguh keterlaluan ibu ini”
“Kami orang miskin, kami tak punya apa-apa untuk dimasak hari ini, sehingga saya berpura-pura memasak makanan padahal sebenarnya batu agar anak-anak ini lelah menunggu hingga mereka akhirnya tertidur dan melupakan lapar mereka. Mudah-mudahan besok ada rezeki dari Allah buat kami…” perempuan tersebut bertutur sambil menyeka air matanya yang mulai mengalir. “Saya nenek dari anak-anak ini, sementara kedua orang tua mereka sudah meninggal. Sayapun sudah tak kuat bekerja lagi…”

“Mengapa ibu tak meminta bantuan dari baitul maal kepada Umar, khalifah negeri ini?” tanya lelaki itu.
“Sungguh Umar telah menyia-nyiakan amanat dari Allah kepadanya untuk menjaga umat ini. Tentu saja ia seharusnya lebih mengetahui keadaan umat yang dipimpinnya dan tak membiarkan kami kelaparan seperti ini.

“Baiklah, kami permisi dulu bu…” sahut lelaki itu lalu segera keluar diikuti rekannya yang sedari tadi diam saja.
“Celakalah kau wahai Umar, celakalah kamu” sahut lelaki itu berulang-ulang dalam hatinya dalam perjalanan kembalinya. Meleleh air matanya. “Bagaimana kelak engkau akan menghadap Tuhanmu?”
Bergegas lelaki itu itu menuju baitul maal lalu mengambil sekantung gandum, beberapa uang dinar-dirham secukupnya serta seguci minyak samin. Segera dipanggulnya karung gandum tersebut dan menyerahkan guci berisi minyak samin kepada temannya.
“Wahai Amirul mukminin, tak pantas kiranya hamba hanya membawa guci ringan ini sementara tuan memanggul karung yang berat tersebut.” sahut temannya.
“Tidak, wahai Aslam. Engkau tidak tahu berapa berat beban yang akan kupikul di akhirat kelak, jadi biarlah aku pikul sendiri kantung gandum ini untuk menebus dosaku.”
Lelaki yang dipanggil Amirul Mukminin tersebut tak lain adalah Umar bin Khatab ra, sang khalifah sendiri, sementara temannya yang dipanggil Aslam adalah ajudan atau pembantu setianya.

Sesampai di gubuk wanita tua tadi, segera ia memasak makanan yang dibawanya. Sambil menunggu makanan matang, kepada 3 orang anak tersebut ia menenangkan mereka dengan mendongengkan cerita-cerita sehingga mereka terhibur. Ketika makanan telah matang, ia sendiri pula yang mengambilkannya kemudian menyuapkan kepada anak-anak tersebut.

***
Sungguh kami rindu akan pemimpin seperti engkau, wahai Al Faruq Amirul Mukminin…
pemimpin yang mau terjun langsung untuk mengamati keadaan rakyatnya tanpa harus diketahui jati dirinya.

di masa kini
jembatan rusak dibiarkan
sekolah ambruk ditelantarkan
tidurkah kalian para pejabat?
terlelapkah kalian para wakil rakyat?

untuk adik-adikku
tetaplah sekolah
teruslah berjuang

Sesungguhnya Tuhan tidak tidur..

Leave a Reply