Krisis Dubai World, size does matter
Tentang Dubai World
Dubai World (Arabic: دبي العالمية) perusahaan investasi yang mengelola dan mengawasi portofolio bisnis dan proyek milik pemerintah Dubai yang tersebar di berbagai area industri untuk mempromosikan Dubai sebagai hub/penghubung untuk perdagangan dan transaksi. Bosnya adalah Sultan Ahmed bin Sulayem.

Kejadian Sebenarnya
“Dubai World ingin meminta kepada seluruh penyedia pembiayaan Dubai World dan Nakheel untuk ’standstill’ (kondisi tidak membayar utang) dan memperpanjang jatuh tempo menjadi paling tidak 30 Mei 2010. Sangat berbeda dengan kasus subprime mortgage yang benar-benar tidak dapat membayar uang mereka kembali.
Contoh, Nakheel, anak perusahaan Dubai World di bidang property yang terkenal dengan proyek The Palm Island, perumahan yang berada di tengah laut berbentuk pohon kurma. Sumber pendanaannya antara lain dengan menggunakan sukuk. Nilai sukuk yang ditunda pembayaran pokoknya adalah sebesar 3,52 miliar USD. Tanggal jatuh temponya adalah tanggal 14 Desember 2009, diusulkan ditunda hingga 30 Mei 2010. Penundaan ini tentunya memberikan efek negatif bagi pemegang sukuk tersebut yang sangat membutuhkan likuiditas. Hal ini menyebabkan jatuhnya harga sukuk tersebut hingga -31,11% (menjadi 62) dalam satu hari pada tanggal 26 November 2009. Masalah sukuk Nakheel pada dasarnya mulai muncul pada bulan Juli 2009 ketika Nakheel mengajukan revisi struktur sukuk sebesar 750 juta USD.
Laporan keuangan Nakheel sendiri mendapat opini wajar dengan pengecualian dari Ernst & Young pada 5 November 2006. Sedangkan laporan laba rugi pada 6 bulan pertama tahun 2006 mengalami kerugian sebesar -98 juta AED. Sedangkan pada tahun 2005 sebesar -331,7 juta AED, tahun 2004 sebesar -205,3 juta AED dan tahun 2003 sebesar -62,4 juta AED. Walaupun demikian, jumlah sukuk sebesar 3,52 miliar USD pada dasarnya relatif kecil bila dibandingkan dengan modal Nakheel yang sebesar sekitar 18 miliar USD. Sehingga masih dapat dikatakan wajar jumlah nominal sukuk yang dikeluarkan.
Demikian, hal ini berbeda dengan subprime mortgage yang terjadi di Amerika dimana tidak ada underlying asset-nya sehingga nilainya bisa benar-benar hilang. Namun demikian, yang perlu diperhatikan adalah nilai pasaran perumahan di Dubai mengalami penurunan hingga 70%, hal ini tentunya akan berdampak pada jaminan atau underlying asset yang diberikan oleh Nakheel. Di samping itu banyak terjadi default dalam pembayaran property tersebut, ini akan berdampak pada likuiditas perusahaan property di Dubai pada umumnya.
Yang menjadi masalah adalah ukurannya yang sangat besar dan menggurita dimana-mana, bahkan hingga ke Indonesia. Size does matter, yang mungkin menyeret dunia ke arah krisis lanjutan dari krisis 2008.
Kaitannya Dengan Ekonomi Keuangan Islam
Nakheel, anak usaha Dubai World tercatat memiliki obligasi syariah US$ 3,5 miliar yang jatuh tempo pada 14 Desember dan utang lain senilai US$ 980 juta yang jatuh tempo 13 Mei 2010. Nakheel yang merupakan pengembang properti terkemuka itu sempat menjadi raja ketika terjadi booming konstruksi. Limitless, pengembang yang juga anak usaha Dubai World lainnya tercatat memiliki utang obligasi syariah senilai US$ 1,2 miliar yang jatuh tempo pada 31 Maret 2010.

Dubai World bermegah-megah dalam sektor property dengan membangun gedung-gedung mewah bertingkat, dimana dana tersebut sebagian dari hasil booming harga minyak serta pembiayaan dari sukuk dan obligasi. Tujuan awalnya memang untuk menarik investor untuk memiliki property di sana dan menjadikan Dubai sebagai pusat perdagangan di timur tengah.
Dampak Bagi Indonesia
Masalah gagal bayar obligasi Dubai World ini adalah karena lemahnya keterbukaan (disclosure ) serta pengawasan (supervisi). Sebagian dari debts dicatat off-balance sheet dan ratio utang mencapai 103%. Capital flows (aliran dana asing) ke emerging markets akan menurun akibat turunnya kepercayaan para investor asing
Kondisi gagal bayar yang dialami oleh Dubai World ini juga akan berdampak kepada makin mahalnya biaya penerbitan surat utang negara-negara berkembang (emerging markets ) sebab perhitungan premi risiko pada harga surat utang semakin tinggi, atau harus ada extra price yang diberikan
Negatif
Bila para raja minyak di Uni Emirat Arab ingin mengembalikan dana, mereka bisa saja melakukan dengan mempermainkan harga minyak dunia. Ini akan berdampak luas karena Indonesia yang sudah menjadi net importir minyak harus bersiap dengan kenaikan harga minyak yang mempunyai rantai efek cukup panjang dalam perekonomian Indonesia, seprti inflasi dan defisit APBN.
Positif
Kasus gagal bayar surat utang oleh Dubai World bisa memberikan berkah sendiri ke Indonesia. Para investor yang bisa berinvestasi pada sukuk di Dubai akan mencari tempat investasi baru untuk memutar uangnya, misal ke Indonesia. Secara undang-undang, instrumen sukuk di Indonesia sudah diatur dengan jelas. Sehingga investor bisa teryakini untuk mengalihkan investasinya ke Indonesia
wallahualam,







