Tangan kasar itu
oleh: Wiku Suryomurti
“Bang!” seruku memanggil seorang tukang sol sepatu yang kebetulan lewat depan rumahku. Bergegas aku ke dalam rumah mengambil sepatu olahragaku yang sekilas masih nampak bagus, setidaknya menurutku walaupun solnya sudah mulai kurang lengket namun masih cukup tebal. Ketimbang beli baru pikirku.
Tukang sol itu menghampiriku. Kutaksir umurnya sedikit di atas umurku, namun penampilannya kelihatan jauh lebih tua. Mungkin karena kerasnya perjuangan hidupnya.
“Bisa ini dijahit keliling?” Tanyaku. ”Bisa, Pak” jawabnya.
“Oke, silahkan, saya sambi dengan nyuci mobil” sambungku.
Dengan cekatan ia membuka kotak perkakasnya dan mengeluarkan isinya. Ada benang, lem, karet sol tipis dan jarum sol. Dengan lincah, jari jemarinya bergerak mulai menjahit sepatu tersebut.
Sepatu bermerk kasogi tersebut aku beli sekitar empat tahun lalu di sebuah toko di batam sewaktu aku masih bertugas di sana. Aku menyenanginya karena bobotnya yang enteng dan modelnya tidak norak. Tanpa sadar aku teringat berita di tv kemarin yang menayangkan berita buruh pabrik sepatu tersebut yang melakukan demo menuntut pesangon akibat di-phk. Krisis masih ada di negeri ini. Pabrik sepatu yang berlokasi di surabaya itu tutup karena bangkrut dan tidak sanggup bersaing di era persaingan bebas saat ini.
Sambil terus mengelap mobilku, sesekali kulirik ia yang masih asyik menjahit sepatuku. Pandanganku terarah pada telapak tangannya. Tampak sedikit kasar dan agak kotor. Ingatanku melayang pada sebuah riwayat tatkala Rasulullah baru pulang dari Perang Tabuk. Rasulullah melalui pasar dan bertemu dengan seorang sahabat yaitu Saad bin Muadz. Beliau bertanya tentang tangan Saad bin Muadz dan dijawab bahwa tangannya demikian karena ia harus bekerja keras untuk menafkahi keluarganya walaupun pekerjaan kasar sekalipun. Rasulullah kemudian menciumi tangan tersebut seraya berkata “Sesungguhnya tangan yang kasar ini tidak akan disentuh oleh api neraka”. Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan “tangan ini lebih dicintai Allah dan rasul-Nya”.
********
Pak, ini sudah selesai…” kata tukang sol tersebut beberapa waktu kemudian.
“Berapa? Tanyaku.
“Lima ribu…” singkat.
Aku pikir lima ribu tak perlulah kutawar karena toh tak setiap hari atau setiap bulan aku membutuhkan jasanya.
Segeraku mengambil selembar lima ribuan dari kantong dan menyerahkan kepadanya.
“Terima kasih, Pak” ujarnya lalu mulai membereskan peralatannya.
“Oya, ini buat di jalan kalau haus bang” kataku sambil mengulurkan segelas air mineral yang masih utuh yang aku ambil dari dalam mobilku. Wajahnya langsung berubah berseri-seri dan tersenyum.
“Terimakasih banyak, Pak.”
Dimasukkannya air mineral dalam gelas itu ke dalam kotak lalu ia pun berlalu.
*****
Hingga pada detik ini, kubayangkan negeri ini akan mempunyai pemimpin seperti baginda nabi saw. Mengingat kembali kisah mengharukan tersebut ketika tak segan beliau mencium telapak tangan umatnya yang kasar sambil mengelukannya di hadapan para sahabat sebagai tangan yang mulia karena digunakan untuk mencari rizki dengan cara yang halal.
Alangkah mulianya. Semoga







