Berkenalan dengan seseorang yang menceritakan dirinya adalah perantau di ibukota.
Ia adalah adik dari seorang petenis nasional yang pernah menduduki peringkat pertama dan sering membela indonesia di berbagai turnamen.
Satu hal yang menggelitik adalah bahwa kakaknya tersebut sebenarnya telah kehilangan sebagian masa bahagianya ketika masa kanak-kanaknya. Sejak umur 8 tahun kakaknya harus menjalani kehidupan yang berbeda dengan kebanyakan teman sebayanya. Ia diharuskan berlatih tenis sebelum berangkat sekolah, dan ketika pulang sekolah pun hari-harinya dihabiskan dengan memukul bola melewati jaring/net tersebut.
Namun semua itu cukup terbayar ketika saat ini kakaknya telah menjadi petenis papan atas nasional dan memiliki kecukupan materi dan pengalaman berkelana ke berbagai belahan dunia, mulai sea games, asian games hingga piala davis.
Hal serupa sebenarnya terjadi juga bagi atlet-atlet yang lain, seperti taufik hidayat dan susi susanti di bulutangkis, nasution bersaudara di renang, dream tim catur indonesia ataupun salossa bersaudara di sepakbola.
Baiklah, sebagian di antara mereka mungkin bukan karena keinginan pribadi tapi bisa jadi adalah ambisi orang tua, namun pelajaran yang dipetik adalah bahwa masa depan itu memang harus dipersiapkan. Seorang juara tidak dibuat dalam sehari dua hari, seringkali harus melalui pembinaan panjang sejak kanak-kanak.
Anda barangkali tahu siapa itu Tiger Woods, tapi mungkin anda tidak tahu bagaimana perjalananan yang ditempuh seorang Tiger Woods untuk mencapai level seprti sekarang. Sejak umur 6-8 tahun, ia sudah belajar memegang stick golf dan berlatih memukul bola golf dengan benar.
Seperti kata bijak oleh Peter Drucker, seorang pakar marketing: the best way to predict the future is to create it.
so, how and what your kid will be in the future? you have your own answer and solution…
have a nice day.
Wassalam,
Wiku







