wikusuryomurti.com

Mempersiapkan seorang juara

Berkenalan dengan seseorang yang menceritakan dirinya adalah perantau di ibukota.

Ia adalah adik dari seorang petenis nasional yang pernah menduduki peringkat pertama dan sering membela indonesia di berbagai turnamen.

Satu hal yang menggelitik adalah bahwa kakaknya tersebut sebenarnya telah kehilangan sebagian masa bahagianya ketika masa kanak-kanaknya. Sejak umur 8 tahun kakaknya harus menjalani kehidupan yang berbeda dengan kebanyakan teman sebayanya. Ia diharuskan berlatih tenis sebelum berangkat sekolah, dan ketika pulang sekolah pun hari-harinya dihabiskan dengan memukul bola melewati jaring/net tersebut.

Namun semua itu cukup terbayar ketika saat ini kakaknya telah menjadi petenis papan atas nasional dan memiliki kecukupan materi dan pengalaman berkelana ke berbagai belahan dunia, mulai sea games, asian games hingga piala davis.

Hal serupa sebenarnya terjadi juga bagi atlet-atlet yang lain, seperti taufik hidayat dan susi susanti di bulutangkis, nasution bersaudara di renang, dream tim catur indonesia ataupun salossa bersaudara di sepakbola.

Baiklah, sebagian di antara mereka mungkin bukan karena keinginan pribadi tapi bisa jadi adalah ambisi orang tua, namun pelajaran yang dipetik adalah bahwa masa depan itu memang harus dipersiapkan. Seorang juara tidak dibuat dalam sehari dua hari, seringkali harus melalui pembinaan panjang sejak kanak-kanak.

Anda barangkali tahu siapa itu Tiger Woods, tapi mungkin anda tidak tahu bagaimana perjalananan yang ditempuh seorang Tiger Woods untuk mencapai level seprti sekarang. Sejak umur 6-8 tahun, ia sudah belajar memegang stick golf dan berlatih memukul bola golf dengan benar.

Seperti kata bijak oleh Peter Drucker, seorang pakar marketing: the best way to predict the future is to create it.

so, how and what your kid will be in the future? you have your own answer and solution… :)

have a nice day.

Wassalam,

Wiku

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • LinkedIn
  • Twitter

Value at Risk

oleh: Wiku Suryomurti

Risiko muncul sebagai akibat adanya probabilitas akan terjadinya lebih dari satu hasil (outcome). Risiko dapat didefinisikan sebagai variabilitas atau volatilitas atas munculnya sesuatu yang tidak diharapkan. Walaupun semua bisnis menghadapi ketidakpastian, institusi keuangan menghadapi risiko yang khusus karena sifat alami bidang usaha mereka. Khan dan Ahmed (hal: 25, 2001) menyatakan bahwa salah satu tujuan dari institusi keuangan adalah untuk memaksimalkan profit dan nilai tambah pemegang saham dengan menyediakan layanan jasa keuangan yang bermacam-macam dan utamanya juga dengan memanajemenkan risiko.

Manajemen risiko dapat diinterpretasikan sebagai pengambilan keputusan yang rasional dalam keseluruhan proses penanganan risiko, termasuk risk assessment, sebagaimana tindakan untuk membangun dan menerapkan pilihan-pilihan kontrol risiko. Atau dapat pula diterjemahkan sebagai suatu proses menyeluruh yang dilakukan institusi keuangan untuk mendefinisikan strategi bisnis, untuk mengidentifikasi risiko yang dihadapi, mengkuantifikasi risiko tersebut dan memahami serta mengontrol risiko yang dihadapinya.

Value at Risk (VaR) merupakan sebuah metode pengukuran risiko yang diperkenalkan oleh JP Morgan. Secara umum, didefinisikan sebagai pengukuran potensi kerugian maksimum dari suatu portofolio pada kondisi pasar normal pada interval waktu yang spesifik dengan tingkat kepercayaan tertentu. VaR menjawab pertanyaan berikut: berapa besar kerugian maksimum yang akan dialami dengan tingkat kepercayaan sebesar x % dalam jangka waktu misalnya 1 hari ke depan? (J.P. Morgan, hal: 6, 1996). Data yang digunakan adalah data masa lalu (historical data) untuk memprediksi perubahan nilai di masa yang akan datang.

Secara sederhana, VaR dapat dihitung dengan menggunakan formula berikut seperti dalam Jorion (hal: 108, 2001) serta Khan dan Ahmed (hal:45, 2001):

VaR = V0 x s x a x ?t …………………………………………………………….. (2.1)

dimana: V0 = Nilai Eksposur

s = Standar Deviasi

a = Level kepercayaan

?t = Horizon waktu

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • LinkedIn
  • Twitter